MBAH TOHARI'S FAMILY

Komunitas Keluaraga Eyang Anom Sari

Tampilkan postingan dengan label Kaweruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaweruh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2019

Mengenal dan memahami Babad

April 24, 2019
Latarbelakang
Gunamantra sang Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitrēpuja, masih sireng swagotra kabeh.
(Ramayana, I.4)

Krisis moral yang berkepanjangan telah menimbulkan krisis baru dalam berbagai bidang kehidupan politik, sosial budaya, bahkan moral masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Jawa.
Krisis tersebut sangat potensial menimbulkan konflik, baik konflik eksternal maupun internal, dan konflik dapat memicu terjadinya disintegrasi.

Di sisi lain, bangsa Indonesia (termasuk masyarakat Jawa) sangat kaya dengan peninggalan budaya atau warisan budaya masa lampau.

Salah satu warisan budaya tersebut adalah naskah.

Di antara berbagai jenis naskah, babad merupakan salah satu jenis karya sastra sejarah yang masih hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Jawa.

Babad merupakan perwujudan nilai-nilai dan peristiwa-peristiwa penting pada zamannya, seperti kehidupan kebudayaan, alam pikiran, susunan tata pemerintahan, adat istiadat, keadaan masyarakat, dan kegiatan kultural lainnya.

Tradisi penulisan babad telah dimulai sejak abad ke 16.

Jika kemudian kita berpikir bahwa masa kini merupakan perpanjangan masa lampau, maka perkembangan bangsa dan masyarakat pada masa kini semestinya dapat dipahami dan dikembangkan dengan memperhatikan latar historisnya (kehidupan masa lampau).

Hal ini berarti bahwa perlu diperhatikan berbagai informasi masa lampau, misalnya tentang buah pikiran, pandangan, nilai-nilai yang pernah hidup dan berkembang pada masa lalu.

Oleh karena itu, babad mempunyai peranan penting.

Sehubungan dengan itu, kiranya persoalan yang dihadapi adalah:
Bagaimana cara kita memandang, memahami, dan memerankan babad pada kehidupan ini?
Hal inilah menurut hemat saya perlu didiskusikan pada kesempatan ini.

Apa itu Babad?
Istilah babad terdapat di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

Di daerah-daerah lain, seperti Sulawesi Utara, babad disebut lontara, di Sumatra Barat dikenal dengan istilah tambo, di Kalimantan, Sumatra, dan Malaysia dikenal dengan sebutan hikayat, sisilah, sejarah.

Di Burma dan Thailand dikenal dengan sebutan kronikel.
(Soedarsono, 1985).

Ada bermacam-macam pengertian babad.

Menurut Darusuprapta (1976), babad adalah:
Salah satu jenis karya sastra-sejarah berbahasa Jawa Baru yang penamaannya beraneka ragam, anatar lain berdasarkan nama sendiri, nama geografi, nama peristiwa atau yang lainnya. 

Sartono Kartodirdjo (1968) menjelaskan babad merupakan:
Penulisan sejarah tradisional atau historiografi tradisional sebagai suatu bentuk dan suatu kultur yang membentangkan riwayat, dimana sifat-sifat dan tingkat kultur mempengaruhi dan bahkan menentukan bentuk itu sehingga historiografi selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya. 

Menurut Soekmono (1973), babad merupakan:
Cerita-sejarah yang biasanya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah meskipun yang menjadi pola adalah memang peristiwa sejarah. 

Teeuw (1984) menjelaskan babad adalah:
Sebagai teks-teks historik atau genealogik yang mengandung unsur–unsur kesastraan. 

Demikanlah ada bermacam-macam pengertian babad.

Akan tetapi, pada prinsipnya babad merupakan teks-teks historis yang dikemas dengan unsur-unsur kesastraan.

Hakikat Babad
Babad merupakan titk temu antara sastra dan sejarah.

Realistas dalam babad telah berpadu dengan kreativitas.

Maka realitas itu telah menunjukkan wajah baru.

Dengan demikian, babad bukanlah mutlak dipandang sebagai dokumen sejarah, tetapi juga dipandang sebagai teks yang secara kreatif, dan menurut konvensi kebudayaan Jawa.

Menafsirkan dan membayangkan hal-hal sejarah dan bukan sejarah dalam rangka pandangan dunia masyarakat Jawa.

Teks babad merupakan kenyataan yang diberi nilai dan makna lewat cerita.

Oleh karena itu, babad menjadi semacam model gaya bercerita yang laku dalam kebudayaan Jawa pada zaman itu.

Dengan demikian, seorang penulis babad lebih menekankan pemberian makna dan eksistensi manusia lewat cerita, peristiwa yang barangkali tidak benar secara faktual tetapi masuk akal secara maknawi.

Jadi, dalam membaca babad kita selalu sadar bahwa kita berada dalam tegangan history dan story.

Dengan kata lain, manusia dapat hidup dalam perpaduan antara kenyataan dan impian yang kedua-duanya hakiki untuk kita sebagai manusia.

Oleh karena itu, keobjektifan mutlak tidak pernah tercapai karena beberapa hal, yaitu:

  1. Fakta – fakta tidak pernah lengkap, selalu fragmentaris; 
  2. Penulis babad mau tak mau harus berlaku selektif, tidak semua fakta dan data sama penting dan relevennya. Ia harus memilih dan kriteria objektif untuk penyelesaian tidak ada sehingga cendrung menulis apa yang sebaiknya ditulis bukan apa yang seharusnya ditulis;
  3. Penulis babad adalah manusia yang latar belakang, kecendrungan, pendiriannya bersifat subjektif, ditentukan oleh pengalaman, situasi, dan kondisi hidupnya sebagai manusia sosio-budaya pada masa dan masyarakat tertentu.
(Teeuw, 1988).

Sifat Babad
Sejalan dengan pengertian dan hakikat babad seperti di atas, maka babad memiliki sifat-sifat:

  • sakral-magis (dikramatkan), 
  • religio-magis (mengandung kapercayaan), 
  • legendaris (berhubungan dengan alam semesta), 
  • mitologis (berhubungan dengan dewa-dewa), 
  • hagiografis (mengandung kemukjizatan menyimpang dari hukum alam), 
  • simbolis (mengandung lambang-lambang, kata-kata keramat atau bhisama, benda-benda kramat), 
  • sugestif (mengandung ramalan, suara gaib, tabir mimpi), 
  • istana sentris (berpusat pada kerajaan), 
  • pragmentaris (tidak lengkap), 
  • raja-kultus (pengagungan leluhur), 
  • lokal (bersifat kedaerahan), dan 
  • anonim (tanpa nama pengarang).

Peranan dan fungsi Babad pada Masyarakat Jawa Masa Kini
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa babad pada hakikatnya merupakan penafsiran terhadap kenyataan, alternatif kenyataan, atau kenyataan diberi makna lewat cerita.

Sejalan dengan itu, makna babad bukan terletak pada peristiwa itu tetapi berada di balik peristiwa.

Sebagai produk budaya kiranya babad dapat dilihat sebagai sistem simbol.

Babad dapat dipandang menggambarkan suatu cara masyarakat Jawa memperkuat dan melestarikan dirinya melalui simbolisasi dari nilai-nilai atau konsep-konsepsi sosio-religius yang mendasari struktur sosialnya.

Hal ini penting terutama ditinjau dari segi proses interaksi masyarakat Jawa sebagai makhluk sosial.

Dalam konteks ini interaksi itu dipahami sebagai interaksi simbolik.

Babad sebagai simbol digunakan oleh orang Jawa dalam berinteraksi satu sama lain atau untuk menyatakan gagasannya sebagai manusia berkebudayaan.

Selanjutnya, sebagai warisan budaya, kiranya babad dapat dipandang sebagai konsepsi-konsepsi orang Jawa dalam menanggapi kehidupan dan lingkungan-nya demi eksistensinya secara historis.

Kecuali itu, babad juga dipandang sebagai suatu abstraksi tingkah laku, sebagai mekanisme kontrol bagi kelakuan orang Jawa.

Dalam konteks inilah hal-hal penting dalam babad, seperti bhisama dan persoalan sesanan bagi klien bersangkutan dapat dipahami dalam konteks yang lebih utuh.

Sekalipun babad ditulis untuk mengenal dan mengingat peristiwa-peristiwa historis dengan segala konsekuensinya, maka kita lebih jauh dituntut untuk dapat memahami dan memberikan penafsiran secara jernih dan komprehensif bahwa fungsi dokumentasi babad hendaknya dipahami sesuai dengan kodratinya sebagai ciptaan sastra.

Bahwa realita dalam babad memiliki hukumnya sendiri yang tidak harus sama dengan realita dalam fakta.

Hal ini karena dalam ciptaan yang dinamakan sastra itu terdapat kepaduan antara mimesis dan creatio.

Tidak hanya itu, fakta dan data yang tersedia di dalam babad tidak dapat dipertanggungjawabkan secara penuh.

Informasi pada babad hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan.

Jika mengangkat informasi dalam babad sebagai:

  1. Bahan penyusunan sejarah, semestinya harus melalui kritik sumber, dan
  2. Babad dibaca berdampingan dengan sumber-sumber lainnya.
Namun demikian, masih dapat diakui bahwa babad diciptakan dalam rangka struktur dan pemenuhan fungsi.

Sejalan dengan itu, fungsi babad, antara lain:

  1. Berfungsi melegitimasi (mengesahkan) asal-usul / silsilah leluhur, 
  2. Kejadian/ peristiwa, desa, Candi atau hal-hal lainnya. 

Sehubungan dengan fungsi legitimasi inilah faktor-faktor kepercayaan dan ritus religius berhadapan dan saling menentukan satu sama lain.

Unsur-unsur mitos, legenda, hagiografi, simbolisme, dan sugesti sangat dibutuhkan dalam upaya menambah kakramatan dan kewibawaan tokoh atau peritiwa yang dilegitimasi.

Di samping itu, babad berfungsi sebagai, penghormatan kepada leluhur.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu kepercayaan (sradha) orang Jawa adalah kepercayaan terhadap leluhur.

Banyak kasus ditemukan dala kehidupan masyarakat Jawa bahwa karena faktor “tidak mengenal leluhur” (tidak kenal maka tak sayang) orang tersebut hidup sengsara, tetapi setelah menemukan dan mengenal leluhurnya kehidupannya berubah menjadi lebih bahagia.

Hal ini pula diamanatkan dalam petikan Kekawin Ramayana di atas, bahwa untuk dapat menjadi seorang Gunamanta (memiliki kewajiban) seperti Sang Dasaratha, maka kita diwajibkan berbakti kepada leluhur (tar malupeng pitrepuja) di samping bertaqwa kepada Tuhan (bhakti ring dewa).

Lebih jauh, babad berfungsi sebagai penuntun para keturunan (pratisantana) dalam menjalankan kewajiban masing-masing.

Dalam tataran ini, babad dapat dipandang sebagai suatu mekanisme untuk penataan tingkah laku, sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku orang Jawa.

Babad merupakan kristalisasi pandangan hidup dan ajaran-ajaran luhur para leluhur pada masa lampau.

Dikatakan demikian karena hampir dalam setiap babad memuat bhisama leluhur tentang sesanan (tetegenan, kewajiban) yang wajib dilaksanakan oleh keturunannya.

Babad mengajarkan kepada keturunannya untuk lebih mengenal diri, untuk memahami hakikat dan eksistensi diri sebagai individu dan makhluk sosial.
Artinya:
Babad tidak mengajarkan keturunannya untuk hidup terkotak-kotak, membatasi diri terhadap linkungan, namun sebaliknya, babad mengajarkan interaksi orang Bali sebagai makhluk sosial. 
Dalam tataran ini babad merupakan kepaduan antara ontologis dan kosmologis.

Oleh karena itu, diperlukan usaha pemahaman komprehensif, baik terhadap manusia dan dunia maupun Tuhan dalam satu keseluruhan konseptual yang koheren.

Hal ini tentu memaksa pikiran untuk meraih sampai ke inti paling murni yang tersembunyi dalam struktur-struktur pengalaman manusia (leluhur pada masa lalu).

Akan menjadi sangat baik apabila keturunan suatu klien mampu melakukan pemahaman seperti itu tentang babad sehingga tumbuh kesadaran yang tereflaksikan dalam bentuk pelaksanaan dharma masing-masing (dharma agam dan dharma nagara) meniru jejak para leluhur.

Dalam rangka meniru jejak leluhur itu, kita mesti tetap dalam kesadaran bahwa babad adalah produk masa lampau yang diberi makna pada masa kini.
Artinya:
Sangat diperlukan kepekaan terhadap situasi dan kondisi zaman pada saat pembacaan. 
Apabila keturunan suatu klien telah mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, maka mereka akan menikmati haknya dengan baik. 

Dalam rangka inilah kerapkali terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan babad.

Yang menjadi horison harapan adalah hak dan melupakan kewajiban apa yang diamanatkan oleh leluhur.

Oleh karena itu, sering menimbulkan konflik, baik internal maupun eksaternal.

Babad juga berfungsi sebagai sumber inspirasi seni.

Cabang seni yang lain, seperti seni pertunjukan, seni rupa, seni patung, bahkan genre sastra lainnya (kidung, geguritan) kerapkali mengambil sumber pada teks-teks babad.

Namun hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengangkat babad sebagai sumber inspirasi atau sumber lakon seni pertunjukan adalah adanya kesinambungan yang mampu menunjukan ciri khas babad lain berupa legitimasi, genealogi, simbolisme, hagiografi, mitologi, dan sugesti.
☆☆☆☆☆

Sabtu, 13 April 2019

Filosofi Penguasa Jawa (Raja Jawa) Identik Dengan Symbol Macan (Harimau)

April 13, 2019
Secara akademik, teori tentang symbol, dapat dibaca misalnya dari pikiran George Herbert Mead yang menyatakan bahwa komunikasi manusia selalu berlangsung melalui pertukaran symbol serta pemaknaan atas symbol.

Tulisan lain tentang teori simbol, dapat juga dibaca tulisan Clifford Geertz

Buku berjudul Religion of Java (1992), menelusuri tradisi keagamaan Mojokerto. 

Tradisi ini kemudian diintrodusir sebagai karakter keagamaan masyarakat Jawa. 

Dalam tulisan itu, dia menyatakan: system symbol dapat merefleksikan kebudayaan tertentu.

Mungkin Kita bisa mendapat jawaban pertanyaan tentang:
Kenapa Penguasa Jawa (Raja Jawa) Identik Dengan Simbul Macan (Harimau)?
dari tulisan:
Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika (8 Februari 2019)
Berikut ini:
Diakui atau tidak, masyarakat Jawa adalah salah satu etnis di Indonesia yang paling akrab sekaligus terpapar dengan kekuasaan. 

Bahkan banyak yang menyebut etnis ini yang terdalam terkena imbas baik positif atau negatif terhadapnya. 

Salah satunya adalah terlacak pada jejak budayanya.

Semenjak masa awal sekali, pada masyarakat Jawa Kuna, di wilayah yang menjadi pulau terpadat di dunia ini sudah ada kekuasaan yang eksis terorganisir dan terentang kuat sistematis. 

Teori Raffles
Di pulau yang kata Raffles tersubur di dunia karena dari puncak gunung hingga pesisir penuh makanan, air, dan ikan ternyata lekat sekali dengan tangan kekuasaan. 

Pengaruh asing pun sudah terindikasi lama sekali. 

Semenjak era terjadinya imigrasi besar-besaran manusia dari Benua Asia yang berada di sebelah utara (Asia belakang/ disebut sebut Yunan) ke arah selatan, maupun hingga masuknya agama Hindu dari anak benua India, hingga ke lompatan zaman berikutnya.

Pada masa awal Masehi (kadang disebut pada abad 4-5 Masehi) 
Pada masa awal Masehi (kadang disebut pada abad 4-5 Masehi) di Jakarta Utara atau kini di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa, sudah tercatat ada kerajaan yang eksis. 

Prasasti Tugu
Jejaknya tercium pada Prasasti Tugu yang kini menjadi sebuah nama wilayah di dekat pelabuhan Tanjung Priok. 

Dalam prasasti itu berbicara banyak bagaimana kekuasaan dijalankan di wilayah ini. 

Bagaimana kekuasaan memberlakukan kehidupan keagamaan, bagaimana kekuasaan berusaha keras membuat makmur rakyat dengan menyodet sungai Candrabaga untuk keperluan irigasi sekaligus penanggulangan banjir, dan sebagainya. 

Di sini ada sosok penguasa bernama Purnawarman.
Prasti tugu dengan huruf Palawa dan Sansekerta.

Menelisik Ke Kutai Kalimantan Timur
Di Kutai Kalimantan Timur pada saat yang hampir bersamaan punya kerajaan dengan nama raja khas ‘Nusantara’ yakni Kudungga. 

Namun jejak seluk-beluk kekuasaannya belum terekam dengan baik di masa kini.

Sejarah lebih banyak bicara mengenai kekuasaan di Jawa daripada di Kalimantan atau Borneo (sejarah wilayah timur Indonesia ternyata masih dianggap serba gelap). 

Di sini juga membenarkan tesis yang dipercaya sejak era Van den Bosch hingga DN  Aidit
'Jawa adalah konci' bagi kekuasaan di negeri kepulauan ini, meski Tan Malaka dan M Yamin kemudian lebih percaya Sumatra adalah masa depan Indonesia. 
Di sini Jawa memang semenjak zaman purba berkelindan dengan gelap terangnya kekuasaan penduduknya.

Ratu Shima
Semua pasti mahfum, di Jawa bagian tengah utara, sesudah masa itu dahulu ada kerajaan Hindu yang kondang dengan Ratu perempuannya yag tegas bernama Ratu Shima. 

Melalui wangsa ini dibangun jejak eksisnya kekuasaan yang berupa berbagai candi yang kini berada di area Dieng atau pegunungan tengah Jawa. 

Cerita kala itu betapa kekuasaan yang adil dan dijalankan tanpa mememihak ada di era ini. 

Ribuan tahun kemudian orang masih mengenangkan ketegasan sekaligus kenegarawan Ratu Shima ini.

Kerajaan Mataram Hindu 
Selain itu jejak kerajaan Mataram Hindu ada pada Prambanan, situs Boko dan lain-lain. 

Saat itu juga masuk kekuasaan dari Sumatra, yakni Sriwijaya. 

Dinasti ini pun meninggalkan candi megah yang bernama Borobudur yang juga masih berada di bagian wilayah pegunungan tengah Jawa yang lain, yakni pegunungan Tidar di Magelang.

Pegunungan ini dalam hikayat tanah Jawa dianggap sebagai paku pulau Jawa agar tak terombang-ambing di keluasan jagat raya seperti pelampung angsa.

Kekuasaan Mataram Kuno
Kisah putaran perburuan kekuasaan Jawa ini berlanjut ketika kekuasaan Mataram Kuno ini berpindah dari area sekitar Jawa Tengah, menuju timur, yakni ke hulu sungai Brantas dengan berdirinya kerajaan Airlangga yang berada di muara Sungai Berantas di dekat Surabaya. 

Perpindahan kekuasaan ini terjadi sekitar tahun 1000 Masehi dengan ditandai hadirnya bencana dahyat meletusnya gunung Merapi. 

Kehebatan letusan gunung itu masih terlacak hingga sekarang dengan ditemukannya berbagai situs candi yang tertanam dalam tanah sedalam 3-4 meter di daerah sekitar Sleman Yogyakarta. 

Uniknya, sepanjang era yang hampir mencapai satu 'alaf' (1000 tahun) itu tidak tercatat secara jelas apa dan bagaimana kekuasaan dipergilirkan antar wangsa tersebut. 
Apakah ada pembunuhan dan perang yang besar selama kurun tersebut? 
Semua tak bisa secara gamblang menjelaskannya.

Tulisan ‘Romo’ Greg Sutomo
Apakah kalau pada kurun alaf pertama Masehi tersebut di Jawa juga tidak ada ekploatasi manusia karena ada kekuasaan yang eksis?
Jawab nanti dahulu. 
Sebab, beberapa tahun silam ada tulisan ada buku yang ditulis dari ‘Romo’ Greg Sutomo terbitan Kanisius Yogyakarta mengenai soal apa yang sebenarnya terjadi di balik berbagai bangunan yang menjadi karya dunia seperti Piramida, tembok Cina hingga Taj Mahal.

Dia mengatakan di balik pendirian bangunan itu pasti ada tangan kekuasaan yang besar. 

Dan di sana pasti ada cerita sedih tentang penderitaan rakyat biasa yang dipaksa untuk melayani kehendak kekuasaan.

Kisah hubungan antara rakyat dengan kekuasaan yang tengah eksis ini, juga ditandai dengan adanya sistem irigasi pertanian yang teratur. 
Kalau ada sistem irigasi maka di situ ada kekuasaan yang eksis.

Maka dari sinilah juga dipikirkan ketika ada atau ditemukan sebuah peninggalan adiluhung di Jawa, maka di sana pasti ada kekuasaan sekaligus juga ada rintihan penderitaan rakyat. 

Di sini juga selalu ada jejak samar mengenai penggunaan agama dalam politik kekuasaan.

Dahulu di Mesir kuno, di Cina, atau era kerajaan Moghul di India pun begitu. Di sanalah tercium kisah rakyat yang dikerahkan untuk membangun benda ajaib tersebut sudah lama terdengar. 

Alhasil, hal sama juga diyakini misalnya kemudian dalam memahami proses pembangunan candi Borobudhur yang butuh memakan waktu lebih dari 10 tahun. 

Di sini di yakini juga adanya jejak pengerahan tenaga manusia secara masif.

Era Berdirinya Kerajaan Airlangga
Nah, setelah era berdirinya kerajaan Airlangga itu kisah perguliran kekuasaan di Jawa semakin terang. 

Kekuasaan memang selalu ganti berganti dan sedihnya, darah dan darah terus terumpah setiap kalinya. 

Perang dan perang terus terjadi, bahkan antar keluarga sekalipun.

Sejarawan Belanda ‘De Graaf’
Lihat saja pada kisah berdiri Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam. 

Melalui buku yang ditulis secara serial oleh sejarawan Belanda ‘De Graaf’ (menulis tentang bangkit, puncak, dan surutnya kekuasaan Mataram Islam) situsasi kekerasan dan konflik terasa sangat jelas. Tikam menikam keris dan senjata sudah berupa kelaziman.

Bahkan, para ahli sejarah Belanda lain ada yang sampai hati mengatakan para penguasa di Jawa dahulu sebenarnya hanya keturunan sekelompok orang layaknya kepala gang bandit. 

Mereka tampaknya berkata begitu karena menyusuri alur sejarah perguliran kekuasaan di pulau beras ‘Jawa Dwipa’ yang memang berdarah darah ini.

Jejak pergantian kekuasaan di Jawa pasca-Demak hingga beralih ke Mataram Islam 
Jejak pergantian kekuasaan di Jawa pasca-Demak hingga beralih ke Mataram Islam tersaji dengan yahud melalui fiksi legendaris 'Api Di Bukit Menoreh' karya SH Mintardja

Serial bersambung yang dahulu terbit dalam sebuah koran dan cetakan stensilan buku tipis, dianggap sebagai fiksi terbaik yang menceritakan sepenggal episode pergantian kekuasaan di Jawa. 

Fiksi ini memang mampu merangsang imajinasi, dan fiksi ternyata beda dengan selama ini khalayak awam pahami sebagai hal yang fiktif atau palsu.
Novel Api Di Bukit Menoreh' karya SH Mintardja

Di penghujung akhir kekuasaan Belanda di Jawa, setelah surutnya pengaruh kerajaan dinasti Mataram dan eksisnya pemerintahan kolonial, wilayah ini tak pula kunjung aman. Klaim kekuasaan bila negerinya itu aman sentosa dan adil makmur hanya ujaran semata, bahkan meninabobokan.

Sejarawan Sartono Kartodirjo 
Konflik dan darah terus terjadi di sekujur pulau ini. Kelaparan penduduk, tanah yang jatuh disewa oleh orang asing untuk lahan perkebunan, dan cucuran air mata yang dibarengi perlawanan rakyat terus terjadi sepanjang waktu.

Mendiang tokoh sejarawan Sartono Kartodirjo kerap mengatakan di Jawa sebenarnya kekerasan terus meletup atau bergejolak: 
Setelah perang Jawa kekerasan terus terjadi di seluruh pulau Jawa meski bentuknya sporadis dan kecil-kecil. Namun rata menyebar. Bandit dan 'kecu' memangsa rakyat yang tinggal di perdesaan.

Menurut Sartono, bahkan setelah era perang pesar Jawa, yakni Perang Diponegoro (1825-1830) kerusuan mengguyur merata seperti hujan yang rintik. 

Memang tidak dalam bentuk perang raya lagi, tapi kekerasan terus merebak dari ujung ke ujung, misalnya dari kekerasan yang digagas oleh tokoh spiritual di lereng gunung di Jawa Timur, ulama di Pantai Utara Jawa, perlawanan para haji di Banten (munculnya Pemberontakan Petani Banten (1888)), hingga perlawanan tokoh lokal spiritual Entong Gendut di Jatinegara, perlawanan atas pajak tanah dan jumlah hari kerja yang dipimpin Kayin Bapa Kayah di desa Pangkalan (dekat bandara Soekarno-Hatta), hingga Pitung yang konon lahir di bilangan Pal Merah (Jakarta). 

Bukan hanya selesai saat itu saja, kekerasan terus meletup hingga 1928 memakan darah yakni pemberontakan PKI pertama, Peristiwa pembantaian di tiga daerah (perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 1945), Perang Revolusi Kemerdekaan 1945-1950, Pemberontakan DII/ TII Kartosuwiryo, kekerasan di sekitar peristiwa G30SPKI 1965, hingga pembantaian dukun santet di Jawa Barat dan Jawa Timur, sampai hadirnya rusuh di masa Reformasi 1998.

Pendambaan Sosok Ratu Adil
Jelas semua perguliran kekuasan tersebut terus memercikkan api kesumat dendam. 

Bahkan hingga kini apa yang disebut impian dalam tembang di suluk para dalang wayang kulit: ‘negeri ingkang tata tentrem karta raharja’ hingga adanya sosok Ratu Adil, tetap tak memunculkan bayangannya.

Great Depression/ Malaise
Gambaran era Jawa yang cukup makmur memang sempat ada meski dalam masa yang sebentar sekali (yakni terindikasi berada di dalam masa kolonial antara tahun 1900-1930). 

Kala itu orang menyebut sebagai 'zaman normal' yang saat itu juga disertai era munculnya gaya lukisan 'Indonesia Moy' (Indonesia Indah). 

Namun suasa ini berakhir karena munculnya krisis ekomoni dunia yang besar (Great Depression/ malaise).

Tapi apakah itu fenomena kekerasan itu khas Indonesia? 
Ternyata tidak. 
Bangsa di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika ternyata sama saja. 

Perguliran kekuasaan di Romawi dan Yunani pun selalu berdarah. 

Zaman Romawi era Kaisar Nero ibu kota kerajaan dan kaum rakyat banyak disiksa dan dibakar hidup-hidup di sana.

Dahulu pendirian negara yang dibangun para imigran, yakni Amerika Serikat di tahun 1700-an misalnya pun memunculan tragedi berdarah berupa perang saudara dan perbudakan. 

Juga di Eropa yang masih belum terlalu lama usai dari aneka kecamuk perang yang bila dikaji lagi di dalamnya juga ada ‘berbau’ konflik agama.

Di Amerika Latin dan negara-negara di Afrika apalagi. 

Ada sebutan yang akrab soal kekuasaan di berbagai negara itu yang diolok-olok bila setiap bangun pagi pasti sang penguasa selalu baru. 

Di sana ada sosok diktator seperti Juan Peron di Argentina. 

Atau Idi Amien di Uganda yang diperlakukan pejoratif dengan disebut ‘Presiden yang suka memangsa daging manusia’. 
Semua serba brutal bukan?

Jadi jangan terlalu heran dengan orang Jawa yang terkesan sopan-santun atau lemah lembut. 

Ingat mereka bukan alien atau penduduk angkasa luar sehingga langgam perilaku tersendiri. 

Mereka juga makhluk bumi pula. Wajar sekaligus masuk akal bila ada pihak yang mengatakan sebenarnya perilaku orang Jawa terhadap kekuasaan galibnya ‘macan yang sedang tertidur’ sebab mendadak bisa bangun keras mengaum atau bahkan mengamuk tak terkendali (diserap ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Amock’). 

Orang Jawa yang keseharian terkesan bersikap ‘mengalah’ berkata terjaga dan lirih itu sebenarnya menyimpan energi kemarahan terdahap kekuasaan yang dirasa menindas batinnya. 

Di sini ada falsafah 'Telu Ngo': 
  1. Ngalah (mengalah), 
  2. Ngalih (berpindah), 
  3. Ngamuk (bertindak membabi buta).

Jadi sekilas memang orang Jawa punya budaya diam karena sejak leluhurnya mereka kerap terpinggirkan oleh kekuasaan. 

Cara bermusyawarahnya yang pada zaman milenial ini disebut 'demokrasi' pun unik. Ini karena hasilnya bisa ditentukan oleh orang yang lebih tua dan berpengaruh meski sosok itu tidak ada dalam ajang yang disebut sebagai musyawawah itu. 

Berbeda atau tidak seegaliter dengan bentuk musyawarah dalam rapat adat di masyarakat luar Jawa yang lebih lugas dan susah dintervensi oleh pihak yang berada di luar ajang musyawarah.

Bahkan dalam titik ini, ada yang sampai hati mengatakan pula bila penjajah Belanda bukanlah pihak yang sebenarnya menjajah penduduk Jawa karena mereka membuat kamuflase canggih. 

Pejabat kolonial Belanda tak pernah menjajah penduduk Jawa secara langsung, tapi menjajah lewat elitnya (meminjam tangan orang lain/ nabok nyilih tangan). 

Jadi Belanda sebenarnya hanya mengendalikan segilintir elit agar menurut segala kemauannya, kemudian elite (priyayi) itu baru kemudian menjajah rakyat yang secara langsung.

Caranya lainnya, berbagai kerajaan dibiarkan tetap eksis meski hanya dijadikan lambang budaya saja. 

Roda pemerintahan yang langsung bersentuhan langsung dengan rakyat mereka cabut. 

Administrasi negara dikendalikan oleh kolonial melalui kepanjangantangannya, yakni wakil raja (mahapatih).
Tiga Orang Perwakilan Dari Keraton Surakarta saat menghadiri Perayaan Ulang Tahun Perkawinan Ratu Wilhelmina di Negeri Belanda Tahun 1923.
(Foto: Indonesia Tempo Doeloe, W. Van Dee Pool, Gahetna.nl)

Alhasil, dari dahulu leluhur Jawa pun sebenarnya sudah punya persepsi sendiri berupa pasemon atau kiasan terhadap kekuasaan dan orang yang berebut, berburu, serta ingin berkusa. 

Ada sebutan ‘wong kuasa iku koyo nunggang macan (berkuasa itu seperti orang naik di punggung harimau: ketika akan naik ke atas macan mereka berebut sekaligus ketakutan, ketika sudah berada di atas punggungnya mereka bisa menjadi sosok menakutan).

Namun ketika akan turun dari posisi yang sebelumnya berada di atas punggung itu, yang berkuasa pun ketakutan sebab bisa dimangsa sang macan. 

Episode berburu macan ini dalam budaya jawa dikenal dengan kiasan berupa festival berburu binatang buas itu yang diberi nama ‘Rampokan’.
Eksekusi putra Raja Amangkurat II dengan cara dicekik dan permaisuri serta para dayang-dayangnya di eksekusi dengan cara di lempar ke kandang macan yang tidak diberi makan selama berhari-hari.

Hebatnya lagi, nasihat lain juga perlu direnungkan terutama bagi para keluarga dan orang-orang disekitar lingkar kekuasaan. 

Hal itu adalah ujaran:
Ojo kudungan welulang macan
(Jangan berkurudung/ berlindung kepada kulit harimau). 
Yang arti sederhananya adalah:
Janganlah suka berlindung di balik kekuasaan agar terlihat menakutkan, berwibawa, atau 'gahar'.

Konflik Berdarah Tujuh Turunan
Celakanya lagi, di masyarakat Jawa kerap menyimpan dendam dan konflik berdarah sampai turun ke generasi tingkat tujuh. 

Tentu masih ingat kisah kutukan Empu Gandring yang mengeksiskan kekuasaan Ken Arok saat membunuh Adapati Tumapel dan kemudian meratakan jalan menuju singgasana kekuasaan selaku Raja Singasari. 

Di kisah ini, rakyat jelata cuma diberlakukan sebagai obyek penderita layaknya Kebo Ijo yang jadi korban ambisi kekuasaan sahabat karibnya, yakni Ken Arok itu.

Pun perlu diingat pula adanya ujaran Jawa klasik yang lain yang terkait imbas dendam dan konflik. 

Ada pepatah begini: 
Dadiyo godong tan sinuwek dadiyo banyu nora cinawuk 
(bila pun jadi daun tidak akan sudi menyobek, bila jadi air tak akan mau menciduk). 
Berburu kekuasaan di Jawa ternyata telah mengakibatkan pendarahan kesumat hingga lintas zaman.

Maka ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh. Dan juga: Ojo Adigang. adigung, adiguno! (besar kepala). 

Ya, terutama, pada segala sesuatu yang terkait dengan kekuasaan.
☆☆☆☆☆

Minggu, 24 Maret 2019

Filosofi Tentang Gundul-Gundul Pacul

Maret 24, 2019
GUNDUL-GUNDUL PACUL merupakan salah satu Tembang Jawa ini konon diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga, ternyata mempunyai arti filosofi yang dalam pembuatanya.

Berikut Ulasan Makna 
FILOSOFI GUNDUL-GUNDUL PACUL
  1. GUNDUL mengandung makna kehormatan tanpa mahkota.
  2. PACUL mengandung makna cangkul, dimana cangkul merupakan alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Jadi pacul adalah lambang dari kawula rendah, kebanyakan petani.

Gundul Pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pemimpin yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan PACUL adalah Papat Kang Ucul.

Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 (empat) hal, yaitu:
Bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

Dimana fungsi dari indra tersebut adalah:

1. Mata
untuk melihat kesulitan rakyat/ masyarakat/ orang banyak.

2. Telinga 
untuk mendengar nasehat.

3. Hidung
untuk mencium aroma kebaikan..

4. Mulut
untuk berkata adil.

Jika 4 (empat) hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya
Besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
☆☆☆☆☆
BERIKUT WEDARAN LAGU
GUNDUL-GUNDUL PACUL

GUNDUL-GUNDUL PACUL-CUL
Jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) hal/ indera mata , telinga , hidung dan mulut itu, maka mengakibatkan:

GEMBELENGAN
(Congkak/ sombong).

NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL
(Menjunjung amanah rakyat/ orang banyak) dengan.

GEMBELENGAN
(Congkak/ sombong).

WAKUL NGGLIMPANG
(Amanah/ kekuasaan jatuh tak bisa dipertahankan).

SEGANE DADI SAK LATAR
(Berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).

Ternyata lagu yang bernada lucu dan gembira ini bermakna dalam dan mulia.

Maka, jadilah pimpinan yang bijak & amanah demi kepentingan orang banyak !

SEMOGA TULISAN INI BERMANFAAT BAGI SIAPAPUN CALON PEMIMPIN DIMASA SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG
Menebar Kebaikan.. 
Menebar Kedamaian.. 
Sugeng Rahayu.

Jumat, 22 Maret 2019

Makna Pepunden Secara Spiritual Suku Jawa

Maret 22, 2019
Pepunden memiliki 2 arti, yaitu Homonim dan Nomina.

Pepunden adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. 

Pepunden memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga pepunden dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Pepunden ini menujukan adanya legenda, mitos atau sejarah di sebuah tempat atau wilayah yang mempunyai nilai sejarah atau nilai historis. 

Kebudayaan pepunden ini masih melekat di masyarakat Jawa baik Jawa kuno maupun Jawa modern walaupun saat ini, banyak pemuda yang kurang mengerti tentang arti pepunden dan bahkan dibilang Syirik, Bidah dan cenderung dikonotasikan hal buruk.

Padahal, makna keren dari pepunden adalah museum sejarah kehidupan manusia yang dapat dikenang sebagai pembelajaran hidup kita saat ini untuk masa yang akan datang.

Pepunden dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pepunden Dunia; dan
2. Pepunden Akhirat.

PEPUNDEN DUNIA
Pepunden dunia terdapat 2 hal, yaitu: 
1. Pepunden Alam; dan 
2. Pepunden Hidup.
Pepunden Alam
Pepunden alam paling mudah kita jabarkan adalah Monumen Tugu Pahlawan di Kota Surabaya Jawa Timur sebagai cikal bakal munculnya Sejarah Kota Pahlawan. 

Dengan adanya Pepunden Tugu Pahlawan ini, kita dapat mempermudah memperkenalkan cerita tentang nenek moyang kita betapa histori dan heroiknya perjuangan mereka menginginkan kemerdekaan sejati dan perjuangan mengusir penjajahan Asing.

Dan Pepunden lainya bisa berupa Pohon Besar, Kuburan, Candi, Sumur, dll. Yang dimana tempat-tempat sebagai cikal bakal dari sejarah setempat.

Pepunden Hidup
Pepunden ini terdapat 3 hal, yaitu:
  1. Pepunden Leluhur (Bapak & Ibu, Kakek & Nenek, dll); 
  2. Pepunden Sesepuh (Guru, Orang-orang yang dituakan); dan 
  3. Pepunden Mertua (Orang Tua dari pasangan hidup).

Pepunden Leluhur
(Bapak & Ibu, Kakek & Nenek, dll)
Pepunden Leluhur merupakan seseorang yang memiliki sejarah keluarga kita hingga saat ini.

Pepunden Sesepuh 
(Guru, Orang-orang yang dituakan)
Pepunden merupakan seseorang yang mengajari kita tentang arti hidup dari kehidupan sejati.

Pepunden Mertua 
(Orang Tua dari pasangan hidup)
Mertua juga bisa dikatakan pepunden karena merupakan sejarah cikal bakal pasangan hidup kita.

PEPUNDEN AKHIRAT
Pepunden akhirat, yaitu: 
1. Sang Pencipta; dan 
2. Utusannya (Para Nabi Dan Para Rasul)

Pepunden ini dapat dijabarkan sesuai dengan makna keyakinan masing-masing sesuai dengan keyakinan yang dianut oleh masyarakat Jawa itu.

Karena dari semua agama meyakini Sang Pencipta dan selalu mengirim utusan kedunia sebagai Petunjuk dan Rahmad dari Sang Pencipta.
Itulah tadi makna pepunden secara spiritual suku Jawa.
☆☆☆☆☆

Senin, 18 Maret 2019

Sesaji Tri Tunggal Suci

Maret 18, 2019
Sesaji Tri Tunggal Suci
SESAJI TRI TUNGGAL SUCI
Berkembangnya pola hidup modernisasi di Indonesia menjadikan bentuk tradisi daerah dan laku spiritual semakin ditinggalkan. 

Bahkan yang parahnya lagi banyak orang yang tidak memperdulikan ataupun menganggap remeh peninggalan-peninggalan para leluhur dalam bentuk karya ataupun sebuah tempat yang diangap kramat semisal candi, sendang, punden dll. 

Energy-energi alam semakin tertutup dengan tumbuhnya modernisasi yang mengakibatkan ketidak seimbangnya antara manusia dan alam. 

Untuk itu Sesaji Tri Tunggal Suci disajikan salah satu fungsi yang utama adalah untuk membuka kembali aura-aura atau energy positif yang terkandung dalam alam nusantara ini.

Bentuk-bentuk ritual yang dewasa ini telah menggunakan Sesaji Tri Tungal Suci antara lain:
  1. Sesaji Alam/ Tali Panguripan;
  2. Sesaji Leluhur/ Tali Pancer; dan
  3. Sesaji Gusti/ Sang Pencipta.

Sesaji Tri Tunggal Suci dapat membuka aura positif dalam diri manusia maupun alam sekitar kita sehingga manusia bisa hidup harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar.

Keyakinan akan perluanya sebuah bentuk sesaji/ persembahan kepada alam, masyarakat Jawa muncul secara cultural sebagai akal budi kesadaran jiwa. 

Betapa pentinya hidup bersih dan mulia secara luas. 

Selalu mawas diri, menilai dan mengkoreksi perbuatan sehari-hari yang disengaja maupun tidak, atau pengaruh karena lingkungan. 

Dengan melakukan intropeksi diri terus-menerus sehingga tercapainya kwalitas diri yang diharapkan mencapai keharmonisan damai sejahtera dan indah sebagai insan hamba Allah. 

Masyarakat Jawa percaya bukan hanya badan yang dibersihkan tetapi jiwa, akhlak, dan mental perlu disucikan supaya tidak mudah dihancurkan oleh:
  1. Sang waktu, dan
  2. Sang kala (bethara kala). 

Begitu juga sebenarnya badan kita perlu semua dibersihkan dan diperbaharui untuk dapat bertahan menghadapi sang waktu, sang kala (bethara kala).

Itulah yang disebut bersih diri meruwat sekaligus buka aura, sinar dari badan memancar.

Rincian Dan Makna Sesaji Tri Tunggal Suci
1. Sesaji Alam/ Tali Panguripan
Dalam penyajian Sesaji Alam/ Tali Panguripan selalu disandingkan dengan bunga, yang bagaimana bunga selalu memancarkan aroma harum. 

Dapat diartikan bahwa jalan hidup manusia dalam Sesaji Alam/ Tali Panguripan akan selalu memberikan keharuman dalam tingkah laku yang dilakukan setiap insan baik jiwa, raga, lahir batin kepada sesama. 

2. Sesaji Leluhur/ Tali Pancer
Sesaji Leluhur/ Tali Pancer yang menjalar keatas melambangkan kita untuk saelalu ingat bahwa hidup manusia jiwa, raga, dan sukma untuk selalu menyatu dan menyembah kepada Tuhan YME. 

Yang melambangkan bahwa manusia akan wangsul/ pulang kembali kepada sang pencipta untuk itu agar selalu intropeksi dan mawas diri. 

Bahwa siapapun manusia adalah hidup menetepi kodrat dari sang ilahi. 

Dari symbol ini adalah manuggalnya rasa antara jiwa, raga dan sukma untuk tetap golong-giling dalam menjalani kehidupan dengan memahayu hayuning diri.

3. Sesaji Gusti/ Tali Sang Pencipta
Sesaji Gusti/ Tali Sang Pencipta adalah sesaji yang pertama kali disajikan yaitu untuk symbol kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan makna bahwa sembah kepada Tuhan akan penguasa dan terciptanya jagad wetan, jagad kulon, jagad, kidul, jagad lor disetiap penjuru dunia. 

Sesaji Gusti/ Tali Sang Pencipta melambangkan bagaimana adek-adek dalam diri manusia. 

Kehidupan yang jumlah maksimal angka dasar, dari sembilan elemen dalam kehidupan dalam diri manusia. 

Tiga Dupa menjalur keatas untuk menyatukan jiwa, raga dan sukma. 

Sesaji Dupa Krisna Mukti
Jumlah Tiga Dupa seluruhnya adalah sebelas sebagaimana mempunyai arti meminta kawelasan dari Tuhan sang pencipta. 

Dupa ditancapkan sebagai keseimbangan, begitu pula dalam setiap diri manusia harus memperhatikan akan keseimbangan dalam segala kehidupan yang membakar habis mencapai kesempurnaan Hidup di Dunia menuju keabadian akhirat.

Sesaji Kembang Telon
Dalam sesaji Tri Tunggal Suci menggunakan Bunga Telo  atau Kembang Telon.

Bunga Telon atau Kembang Telon adalah kumpulan bunga yang terdiri tiga macam bunga. 

Bunga yang bisa digunakan meliputi:
  1. Bunga mawar putih, mawar merah, dan kantil. 
  2. Bunga mawar, melati, kenanga. Atau 
  3. Bunga mawar, melati, kantil.

Telon berasal dari kata telu (tiga) dengan harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri tunggal suci sampurna) yaitu:
  1. Sugih banda, 
  2. Sugih ngelmu, 
  3. Sugih kuasa 
(Kaya harta, Kaya ilmu, dan Kaya Posisi). 

Bunga Telon yang terdiri dari bunga mawar, melati, Kantil yang memiliki kesempurnaan.
1. Bunga Kantil 
(Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil)
Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. 

Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani (Serat Wedhatama). 

Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. 

Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama). 

Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. 

Yakni cirahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. 

Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. 

Jika semua umat manusia bisa melakukan hal demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya. 

Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha Kuasa. 

Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. 

Yaah, mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus manusia membela diriNya. 

Kalau memang kita percaya kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia! 

Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai. 

Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah!! 

Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang kotor.
2. Bunga Melati 
(Kembang MLATHI, rasa melad saka njero ati).
Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. 

Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. 

Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. 

Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.

3. Bunga Kenanga 
(Kembang KENANGA, Keneng-a!)
Atau gapailah..! 
Segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. 

Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. 

Kenanga bermakna kenang-en ing angga. 

Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

Ajaran Angka Tiga
Dalam ajaran agama angka tiga adalah angka sepesial, dalam ajaran islam angka tiga merupakan sunnah rosulullah, sedangkan dalam ajaran nasrani yaitu dikenalnya Yesus, Bunda Maria dan Allah. 

Sedangkan mereka yang memeluk Budhis dan Hindu dikenalnya Tri Tunggal maupun Tri Darma. 

Yang semua itu mempunyai makna dan tujuan yang sama.
☆☆☆☆☆

Sabtu, 16 Maret 2019

Tentang Sugih Ngelmu, Bondo lan Kuwoso Jiwo Pandhita

Maret 16, 2019
Dalam tulisan kali inj perlunya kita mendadar diri agar bisa sugih ngelmu, sugih bondo, lan sugih kuwoso, agar punya daya untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi. 

Dalam tulisan kali ini, perlulah saya jelaskan, khususnya menyangkut istilah sugih bondo lan sugih kuwoso, agar tidak terjadi kesalahpahaman, seolah saya menganjurkan agar para spiritualis menjadi manusia materialistis dan haus kekuasaan.

Menyangkut sugih bondo, mengapa ia perlu menjadi titik tekan? Sederhana jawabannya: 
Saat ini, negeri perlu dibangun, tak hanya oleh aktor pemerintah, tapi juga oleh masyarakat, agar semakin banyak orang bisa mengecap kesejahteraan. Dalam membangun negeri ini, tentu saja, kita tak bisa hanya bermodalkan ilmu, tapi juga harus memiliki kekuatan finansial, sebagai modal pembangunan. 

Contoh:
Ketika kita masuk ke desa tertinggal dengan banyak warga miskin, apakah cukup jika kita di situ hanya datang untuk memberikan nasihat? Tentu tidak! Kita harus hadir dengan strategi pemberdayaan yang canggih, plus keberadaan dana untuk menunjang aksi kita, baik untuk menolong saat mereka punya kebutuhan mendesak, maupun untuk memberdayakan mereka agar mereka mandiri.

Setelah saya merenungkan pola ini, saya menemukan bahwa itu kurang ideal. Akan lebih baik jika kita membangun negeri ini, dengan kekuatan dana kita sendiri, bukan memintap-minta kepada pihak asing. 

Nah, proses penggemblengan diri agarsugih bondo, diarahkan untuk menjadikan diri kita sugih ning ora semugih (ora rumongso nduweni, atau dalam bahasa lain,sugih ning ora numpuk bondo). 

Kita perlu sugih, perlu punya kekayaan, agar hidup sejahtera. 

Akan tetapi, itu bukan untuk kepuasan diri semata, dengan menumpuk harta benda termasuk yang tidak perlu, tapi sebaliknya, agar kita bisa memberi kesejahteraan pada keluarga dan orang-orang dekat kita, serta bisa menolong sesama.

Dan perilaku sugih ning ora semugih, dengan nyata bisa saya lihat diteladankan oleh guru saya. Dengan harta yang berlimpah, guru saya tidak terikat dengan hartanya, tidak pelit, dan bisa menolong banyak orang.

Untuk mencapai tataran sugih bondo tersebut, tentu saja, bukan melalui persekutuan dengan entitas metafisik/ energi negatif – yang dikenal dengan istilah pesugihan. 

Tapi, justru melalui kewirausahaan, melalui pengembangan bisnis, yang selaras dengan jalan dharma, ditunjang dengan upaya pembangkitan kekuatan di dalam diri, sehingga diri kita malah “dikejar rejeki”. 

Seperti dipaparkan secara saintifik oleh Rhonda Byrne dalam The Secret, sesungguhnya kita bisa membangun energi diri yang berfungsi sebagai penarik anugerah termasuk berupa rejeki berlimpah. 

Dan ngelmu Jowo yang setara atau lebih powerfull ketimbang teori The Secret jelas melimpah dan itu tak ada kaitannya dengan energi negatif!

Demikian juga, konsep sugih kuwoso bukan berarti menganjurkan agar kita haus kekuasaan, dan menghalalkan semua cara untuk meraihnya. 

Konsep ini sebetulnya mengarahkan kita untuk menumbuhkan jiwa ksatria, jiwa kepemimpinan. 

Melalui pendadaran jiwa yang panjang, pada akhirnya, kita akan memiliki kualitas menjadi seorang pemimpin. 
Karena pemimpin yang sejati dan layak diikuti hanyalah yang berjiwa pandhita
Dia telah bertemu dengan diri sejatina dan harmoni dengan semesta. 
Saat seseorang telah mencapai tataran satria pinandhita yang sejati, secara alami dia akan jadi pemimpin. 
Dan melalui kuwoso atau jabatan sebagai pemimpin, kita bisa mengabdi pada Ibu Pertiwi, mengayomi dan melayani masyarakat banyak.

Saya mendapatkan contoh nyata, guru saya, justru sering bersikap melayani, tak hanya mengayomi. 

Keadaan yang powerfull, bukan alasan untuk bersikap tirani dan lalim, tapi justru menjadi faktor pendukung untuk memberi manfaat pada sesama lewat perilaku welas asih. 

Dalam kondisi negara saat ini yang telah rusak-rusakan, dibutuhkan kehadiran semakin banyak satrio pinandhita untuk menjadi negarawan, agar jabatan di negeri ini, benar-benar menjadi anugerah bagi rakyat. 
Dan untuk bisa meraih jabatan di negeri ini, seorang satria pinandhita tidak melakukan kampanye murahan dan pencitraan kosong, tapi melalui aksi nyata yang memberdayakan rakyat, dan dengan itu, secara alami rakyat menerima kepemimpinannya. 

Dan begitu jabatan dipegang, karya yang lebih besar dan berdampak luas, bisa dilaksanakan.

Demikian yang bisa saya sampaikan saat ini, sampai jumpa dalam tulisan berikutnya.

Rahayu sagung dumadi.

Minggu, 27 Januari 2019

Jumbuhing Kawula Dumateng Gusti

Januari 27, 2019
Al kisah, dalam kunjungan resminya sebagai utusan raja, Empu Barang atau nama bangsawannya Haryo Lembusuro, seorang pandhito terkemuka tanah Jawa, berkunjung ke Jambu Dwipa (India).
Sesampainya menginjakkan kaki di negeri Hindustan ini, oleh para Brahmana setempat, Empu Barang diminta untuk bersama-sama menyembah patung perwujudan Haricandana (Wisnu). 

Namun, dengan kehalusan sikap manusia Jawa, Empu Barang menyatakan bahwa sebagai pandhito Jawa, dia tidak bisa menyembah patung, tetapi para Brahmana India tetap mendesaknya, dengan alasan:
Brahmana dinasti Haricandana menyembahnya karena Wisnu dipercaya sebagai Sang Pencipta Tribuwana.
Dengan setengah memaksa, Empu Barang diminta duduk, namun sewaktu kaki Empu Barang menyentuh tanah, tiba-tiba bumi bergoyang (tidak disebutkan berapa kekuatan goyangannya dalam skal ritcher).

Yang jelas, saking hebatnya goyangan tersebut, patung tersebut hingga retak-retak.

Memang, menurut tata cara Jawa, penyembahan kepada Sang Penguasa Hidup itu bukan patung, tetapi lewat rasa sejati, sehingga hubungan kawula dengan Gusti menjadi serasi.

Sang Hyang Jagad Girinata (Bathara Guru)

Januari 27, 2019
Menurut mitologi Jawa, Bathara Guru merupakan Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni:
  1. Mayapada (dunia para dewa atau surga), 
  2. Madyapada (dunia manusia atau bumi), dan
  3. Arcapada (dunia bawah atau neraka). 
Batara Guru merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu.
Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan Dewi Umaranti.

Bathara Guru mempunyai beberapa anak.

Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini.

Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti:
  • Sang Hyang Manikmaya, 
  • Sang Hyang Caturbuja, 
  • Sang Hyang Otipati, 
  • Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, 
  • Trinetra, dan 
  • Girinata.
Orang Jawa melakukan puja-puji penyembahan kepada Gustinya langsung dari batinya, maka itu dalam perkembangannya disebut aliran Kebatinan atau perkembangan selanjutnya dikenal dengan istilah Kejawen, karena bersumber dari Jawa.

Bagi orang Jawa tentang cerita waktu bumi Jawa belum dihuni manusia, telah dihuni oleh golongan dewa-dewi dan makhluk halus lainnya.

Dan salah satu putra Sang Hyang Jagad Girinata, yaitu Bathara Wisnu turun ke arcapada kawin dengan Pratiwi, dewi bumi.

Dalam pemahaman kejawen, hal itu disikapi dengan terjemahan, kalau Wisnu itu artinya urip/ hidup, pemelihara kehidupan.

Jadi jelasnya awal mula adanya kehidupan manusia di bumi, atas izin Sang Penguasa Jagad.

Dewa perlambang sukma, manusia perlambang raga.

Begitulah hidup manusia, raganya bisa rusak, namun sukmanya tetap hidup langgeng.

Manikmaya (Kaweruh Menyang Semar)

Januari 27, 2019
Kemolekan bumi Jawa laksana perawan rupawan yang amat jelita, sehingga Kerajaan Rum (Ngerum) yang dipimpin Prabu Galbah, lewat laporan pendeta Ngali Samsujen, begitu terpesona karenanya. Maka diutuslah dutanya yang pertama yang bernama Hadipati Alip.
Hadipati Alip berangkat bersama 10.000 warga Ngerum menuju Nuswa Jawa.

Mereka dalam waktu singkat meninggal terkena wabah penyakit.

Tidak tersisa seorang pun. Lalu dikirimlah ekspedisi kedua dibawah pemimpinan Hadipati Ehe.

Malangnya, mereka juga mengalami nasib sama, tupes tapis tanpa tilas.

Masih diutus rombongan berikutnya, seperti Hadipati Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Semuanya mengalami nasib sama, tumpes kelor.

Melihat semua itu, Prabu Galbah terkejut dan mengalami shock hebat.

Akibatnya, sakit jantungnya kambuh dan beliau kemudian jatuh sakit, dan dalam waktu tak lama mangkat.

Pendeta Ngali Samsujen, merasa bersalah karena nasehatnya menimbulkan malapateka ini terjadi. Akhirnya beliau mati dalam rasa bersalah. Tinggal Mahapati Ngerum, karena rasa setianya, dia ingin melanjutkan missi luhur yang dicita-citakan rajanya.

Dia akhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bersanama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa.

Habisnya para migran dari Ngerum ke Tanah Jawa itu, menurut Jaka Sangkala adalah karena hati mereka yang kurang bersih.

Mereka tidak meminta izin dahulu pada penjaga Nuswa Jawa.

Padahal, karena sejak zaman dahulu, tanah ini sudah ada yang menghuni.

Yang menghuni tanah Jawa adalah manusia yang bersifat suci, berwujud badan halus atau ajiman (aji artinya ratu, man atau wan artinya sakti).

Selain penghuni yang baik, juga dihuni penghuni brekasakan, anak buah Bathara Kala.

Makanya tak ada yang berani tinggal di bumi Jawa, sebelum mendapat izin Wisnu atau manikmaya atau Semar.

Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan isterinya Dewi Sri Kembang.

Saat bertemu, dituturkan bahwa wadyabala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi, dan sudah menjadi Peri Prahyangan, anak buah Batara Kala.

Tapi ke-8 Hadipati yang gugur dalam tugas itu berhasil diselamatkan oleh Wisnu dan diserahi tugas menjaga 8 mata angina. Namun mereka tetap menghuni alam halus.

Atas izin Wisnu, Mahapati Negrum dan Aji Saka berangkat ke tanah Jawa untuk menghadap Semar di Gunung Tidar.

Tidar dari kata Tida; hati di dada, maksudnya hidup. Supaya selamat, oleh Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka diberi sifat kandel berupa rajah Kalacakra, agar terhindar dari wabah penyakit dan serangan anak buah Batara Kala.

Kisah di atas hanya merupakan gambaran, bahwa ada makna yang tersirat di dalamnya. Wisnu dan Aji Saka itu dwitunggal, bagaikan matahari dan sinarnya, madu dan manisnya, tak terpisahkan. Loro-loro ning atunggal.



Maka itu, keraton Wisnu dan Aji Saka itu di Medang Kamulan, yang maksudnya dimula-mula kehidupan.

Kalau dicermati, intinya adalah kaweruh ngilmu sejati tentang kehidupan manusia di dunia, sejak masih gaib hingga terlahir di dunia, supaya hidup baik, sehingga kembalinya nanti menjadi gaib lagi, perjalanannya sempurna.

Kaweruh Ngelmu Sejati

Januari 27, 2019
Melakukan panembah sejati tidak hanya dalam tata lahir, tetapi juga mencakup kegiatan batin dimana Laku (aktivitas) batin itu disebut dengan ngelmu.

Ada ngelmu yang melulu berurusan dengan sembah kepada Tuhan, ada juga yang untuk memper-kuat diri dalam menjalani hidup di dunia.
Dalam Kejawen banyak jenis ngelmu danlaku, baik yang bersifat lahir (duniawi) maupun yang berurusan dengan keba-tinan, bahkan ada pula yang campuran keduniawian dan kebatinan.

Kawruh Sang Paraning Dumadi dan Memayu Hayuning Bawana disebut Ngelmu Sejati, karena merupakanngelmu (pengetahuan dan kemampuan) yang mengajarkan kedudukan sejati dari hidup manusia di dunia.

Ngelmu sejatimerupakan ngelmu kebatinan (spiritual) yang menuntun manusia memahami asal-usul diciptakan sekaligus tujuannya dan kewajiban yang harus dilaksanakan selama menjalani hidup, sejak diciptakan hingga mati (kembali ke asal-usul).

Sedangkan ngelmu  kebatinan yang tidak berkaitan dengan kawruh sangkan parandan kawruh memayu hayuning bawana disebut Ngelmu Karang.

Yang dimaksud dengan ngelmu karang adalah ngelmu  kebatinan yang umumnya bertujuan untuk mendukung hawa nafsu belaka dalam rangka menikmati keduniawian.

Kenikmatan duniawi itu dalam pepatah Jawa sering disebut dengan:
Kumrubuking iwak, gumrincinge ringgit, lan kumlerape pupu kuning.
Dalam Serat Wedhatama, kenikmatan dunia itu baru dianggap tercapai bila manusia dapat mewujudkan tiga perkara:
  1. Wirya, selalu menjaga kehormatan diri sehingga dapat hidup terhormat di masyarakat.
  2. Arta (Kerta), yaitu berkecukupan harta benda kekayaan
  3. Winasis (arif bijaksana), kaya wawasan dan ilmu penge-tahuan sehingga dapat menjadi tempat belajar, tempat berguru, ngangsu kawruh.
Kalau diperhatikan memang seluruh manusia selalu memiliki keinginan dapat mewujudkan tiga perkara menurut Wedhatama tersebut.

Dan itu memang sah-sah saja karena sesu-ngguhnya di tengah hidup bermasyarakat memang perlu orang-orang yang berambisi seperti itu.

Keberadaan orang kaya diperlukan oleh yang berkekurangan dan menjadi sumber dana masyarakat.

Orang berwatak wirya perlu untuk menjadi pemimpin dan panutan orang banyak, sebab pengertian wirya bukan hanya terhormat lahiriah saja (kajen, jw.), tetapi juga mengandung arti sifat ksatria, sifatperwira di dalam batinnya.

Masyarakat tentunya juga membutuhkan orangwinasis (pandai dan kaya wawasan), karena orang winasis bisa menjadi tempat atau tujuan orang bertanya dan meminta petunjuk dalam menjalani hidup yang baik di dunia.

Apabila manusia sampai tidak memiliki ketiga perkara itu sama sekali, maka disebut:
Lebih Berharga Daun Jati Kering
Artinya:
Memang tidak ada harganya sama sekali. 
Jadi, menurut pendapat si penulis Wedhatama, setiap manusia harus memiliki cita-cita mewujudkan Wirya Arta Winasis.

Hanya saja harus benar dan baik cara mewujudkannya.

Kekayaannya bukan diperoleh dengan cara mencuri (colong jupuk), kehormatannya bukan diperoleh dengan tipu muslihat dan menindas orang lain, kepandaiannya tidak hanya berupa gelar-gelar akademik (apalagi hasil membeli).

Masyarakat membutuhkan orang kerta (kaya) yang gemar menolong, butuh orang wiryayang menga-yomi dan perlu orangwinasis yang memang kepandaiannya itu adalah hasil dari belajar dan pengalaman hidup.

Ada juga yang menerima ajaran Wirya Arta Winasis itu tetapi keliru dalam menerapkannya dan yang diterima hanya kulit-kulitnya saja.

Akhirnya menimbulkan pendapat yang menyim-pang jauh dari maksud si pemberi ajaran.

Mereka sekedar ber-anggapan bahwa manusia memperoleh kemuliaan itu bilakaya, berkuasa, dan pandai.

Tidak peduli lagi bagaimana mewujud-kannya, yang penting secara lahiriah dia terlihat kaya, berkuasa dan pandai.

Dia telah menerapkan cara-cara Machiavellian, MENGHALALKAN SEGALA CARA asal tujuannya tercapai.

Karena ingin cepat kaya, punya kekuasaan dan dianggap orang pandai, lalu jadi ngawur dalam mengejarnya.

Kekayaannya diperoleh dengan mencari pesugihan dan kalau jaman sekarang dengan korupsi.

Ingin menjadi penguasa lalu mencari pertolongan orang-orang sakti dengan membayarnya, atau menggunakan cara-cara premanisme.

Karena ingin dianggap orang pinter, lalu membeli gelar sarjana.

Ngelmu kebatinan yang digunakan untuk mencari pesugihan, aji-aji, gendam, jimat, pusaka dan sebagainya itu dalam Wedhatama dianggap kurang baik, karena dianggap melakukan persekutuan (kekarangan) dengan bangsa gaib seperti yang ter-cantum dalam pupuh Pangkur,pada (bait) 9 berikut:
Kekerane ngelmu karang, kekarangan saking bangsa-ning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, yen kapengkok pancabaya, ubayane mbalenjani.
Artinya
  1. Pengaruh atau andalan ngelmu karang itu berteman atau mengadakan perjanjian (minta pertolongan) kepada bangsa gaib. 
  2. Yang seperti itu ibaratnya hanya bedak yang tidak merasuk ke jiwa-raga. 
  3. Tempatnya masih di luar daging. Ketika digunakan untuk menghadapi bahaya, biasanya malah jadi hambar, tidak berdaya guna.
Ngelmu karang yang bersekutu dengan bangsa gaib itu memang tidak dilarang.

Tetapi dianggap kurang baik karena dapat menghambat perjalanan manusia untuk TITIS ING PATI.

Sehingga tidak tercapai tujuan hidup yang sejati, kembali ke haribaan Tuhan.

Sikilas Babat Dalem Majapahit

Babad Dalem Majapahit- Diceritakan Ida Pandita Hindu yang bergelar Usman Aji dan Ajisaka diutus oleh Ratu Hindu yang bernama Raja Ista...