MBAH TOHARI'S FAMILY

Komunitas Keluaraga Eyang Anom Sari

Tampilkan postingan dengan label Majapahit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majapahit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2019

Sikilas Babat Dalem Majapahit

Juli 19, 2019
Babad Dalem Majapahit-Diceritakan Ida Pandita Hindu yang bergelar Usman Aji dan Ajisaka diutus oleh Ratu Hindu yang bernama Raja Istandar memelihara Pulau Jawa, karena pulau Jawa adalah sangat suci. 

Keberangkatan keduanya ini membawa pengikut sebanyak 5.020 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. 

Pada saat itu, yang memerintah di Majapahit pada saat ini Prabu Bhrawijaya
Tetapi Majapahit dikacaukan oleh Islam sehingga banyak putri beliau lari beragama Islam. 

Adapun Putri Bhrawijaya yaitu:
  1. Putri dari Jawa berputra I Bondan Kejawan
  2. Putri dari Danuja berputra Arya Damar.
  3. Putri dari Papua berputra I Lembu Peteng. dan
  4. Putri dari Cina yang wajahnya sangat ayu dan menurunkan Arya Damar. 
Ki Arya Damar memerintah di Palembang dan bergelar Prabu Palembang.

Setelah Majapahit ditinggalkan oleh Arya Damar, ada juga putra beliau yang bernama Arya Sampang yang setelah dewasa diutus untuk ikut kepada kakaknya Arya Damar. 

Arya Sampang diangkat menjadi patih yang bernama Patih Samplangan

Diceritakan julukan para arya dari dulu seperti Arya Bleteng, Arya Sentong, Arya Benculuk, Arya Waringin, Arya Belog. 

Sang Arya Samplangan dulunya memilih Arya Jelantik, Arya Pangrurah Dawuh, Arya Palasan, Arya Dalancang, Arya Sidemen, dan Arya Batan Jeruk,

Diceritakan kemudian Putri Cina setelah 12 tahun akhirnya hamil dan lahirlah Raden Patah.
Patih Gajah Mada dan Patih Supandria yang mempunyai tugas yang berbeda seperti Patih Gajah Mada menjadi penguasa atau panglima dan Patih Supandria menjadi Empu.

Patih Gajah Mada lah yang menurunkan Pasek sebanyak delapan buah sedangkan Patih Supandria mendirikan Warga Pande sebanyak lima buah. 

Putra dari Patih Gajah Mada bernama:
  1. I Pasek Pangasih, 
  2. I Pasek Bandesa,
  3. I Pasek Tangkas, 
  4. I Pasek Ngukuhin, 
  5. I Pasek Pagatepan. 

Putra Ki Patih Supandria adalah 
  1. Pande-mas, 
  2. Pande-gong, 
  3. Pande-wijil, 
  4. Pande-wesi 
yang kesemuanya menjadi pemuka di kerajaan Majapahit.

Juga putri Cina ketika hamil delapan tahun melahirkan Raden Kusen, Raden Patah dan Raden Kusen disuruh menghamba ke Majapahit. 

Tetapi Raden Patah membelok ke Gresik dan Raden Kusen menuju Majapahit. 

Raden Patah sesampai di Gresik menghadap kepada-Raden Guru Sahimulana. 

Raden Patah dipungut dan diajar Agama Islam. 

Setelah Raden Patah mahir dengan ajaran-ajaran Islam, disuruh datang ke Majapahit untuk menggantikan Prabu Majapahit, Raden Patah mengambil istri yang bernama Dewi Supitah disahkan oleh para pendeta sekalian. 

Setelah itu atas petunjuk dari Raden Mulana mendirikan Kerajaan Demak.

Atas perintah dari Raja Majapahit - Raden Kusen menjadi Senapati melakukan penyerangan ke Demak, terjadilah perdebatan dan peperangan antara keduanya. Dalam peperangan ini wafat lah prabu Demak (Raden Patah). 

Setelah itu Raden Kusen kembali ke Majapahit menghadap kepada prabu, tetapi para bahudanda Demak seperti Adipati Pengi, Adipati Giri, Adipati Tegal mengadakan penyerangan ke Majapahit, sehingga Majapahit terdesak, Putra Majapahit yang bernama Raden Lembu Peteng dilarikan serta disembunyikan di Maospahit

Sang Prabu Oka terus lari mengungsi siang malam karena dikejar oleh pasukan Demak untuk diislamkan, tetapi beliau dibantu oleh seekor kijang menjangan untuk melarikannya dan diturunkan di Selat Banyu Arum.

Perjalanan beliau dilanjutkan ke Bali dan sampai di Pulaki diiringi oleh para pendeta dan rakyat sekalian.

Besoknya perjalanannya dilanjutkan sampai ke Batur dan diutusnya Arya Sampang mendirikan puri di Mengwi. 

Ida Sang Prabu diceriterakan sampai di Puri Gelgel dan mendirikan puri yang bernama Puri Smarabawa. 

Di sini lah Agama Tirta dipertahankan serta dilaksanakan sebagai mana mestinya. 

Kemudian Sang Prabu Dalem menempatkan para Arya seperti:
  1. Dalem Ketut di Sanur, 
  2. Arya Jlantik di Karangasem, 
  3. Arya Kepakisan ditempatkan di Tegal Ambengan Buleleng, 
  4. Arya Sidemen di Pangalasan.
Diceritakan I Gede Bendesa Manik Mas di Jimbaran yang berasal dari Banjar Gading Wani Tegeh ada putranya yang bertempat di Pujungan bernama I Gede Tebya. 

Putranya di Beratan bernama I Gede Jagra. 

Diceritakan Ida Padanda Dwijendra pergi ke Gelgel diiringkan oleh Ki Bandesa Manik Mas. 

Ida Padanda sampai di Sumedang, beliau memprelina rakyat sebanyak 800 orang karena putrinya Dewi Swabawa disembunyikan orang rakyat tersebut. Desa itu kini diberi nama Pulaki.

Para pangeran dari Purusa seperti:
  1. I Gede Pasek Gelgel, 
  2. I Gede Bandesa Manik Mas, 
  3. I Gede Dangka, 
  4. I Gede Gaduh, 
  5. I Gede Ngukuhin, 
  6. I Gede Tankenyudurian, 
  7. I Gede Kabayan, 
  8. I Gede Pamregan, dan 
  9. I Gede Abyan Tubuh. 
Para pangeran dari pradana adalah:
  1. I Gede Bala Pulasari, 
  2. I Gede Bandem, 
  3. I Gede Salahin, 
  4. I Gede Komoning dan 
  5. I Gede Lurah. 
Diceritakan keturunan dari Pangeran I Pasek Gelgel yaitu sebanyak delapan orang yang bernama:
  1. Pangeran Gelgel, 
  2. Pangeran Abyan Tubuh, 
  3. Pangeran Selat, 
  4. Pangeran Sebetan, 
  5. Pangeran Dangan, 
  6. Pangeran Batur dan 
  7. I Pangeran Anyaran.
Keturunan Pasek Bali yaitu 
  1. Pasek Kedisan, 
  2. Pasek Sukawana, 
  3. Pasek Taro, dan 
  4. Pasek Celagi.
Keturunan I Bandesa Gelgel adalah:
  1. I Bandesa Gelgel dan 
  2. I Pangeran Manik Mas. 
Pangeran Manik Mas menurunkan:
  1. I Gede Manik Mas dan 
  2. I Gede Pasar. 
Badung, I Gusti Nengah Sebetan Karangasem menjalankan daya upaya untuk menghancurkan Dalem Bali, dengan cara Ida Dalem diutus datang ke Besakih. 

Tetapi sampai di Karangasem, Sri Aji Dalem dikurung serta dipenjara/ ditawan. 

Dengan demikian para putra Dalem lari terlunta-lunta meninggalkan puri Gelgel. 

Diceritakan keturunan I Pasek Kabayan ada yang ke 
  • Batur, 
  • Tabanan, 
  • Baturiti,
  • Pajaten, 
  • Beda, 
  • Kerambitan, 
  • Antasari, 
  • Sanda, 
  • Wongaya, 
  • Gobleg, dan 
  • Pangastulan. 
Serta keturunannya I Gede Kabayan ada yang ke 
  • Sukasada, 
  • Liligundi, dan
  • Tamblang.
Diceritakan keluarga dari I Gede Abyan Tubuh mengungsi ke Pandak, Badung, Sibang, Beranjingan, Sanda, di Buleleng, di Banjar. 

Keturunan dari I Gede Gelgel, di Gianyar, di Blahbatuh, Mengwi, Badung, Tabanan dan di Buleleng.

Diceritakan I Gede Bandesa Selat menyebar keturunannya, ada di Apuan, Duda, Ptiga, Tianyar, Taman Bali, Panarungan, Marga, Blantih, Pacung, Senganan, Biawung, Penebel, Sembung, Pujungan, Jembrana, dan di Buleleng. 

Keturunan I Gede Samping adalah di Badung, Mengwi, Marga Blayu, Deda, Tabanan, Kerambitan, Klating, Jembrana. I Gede Bandesa Mas pergi dari Gelgel menyebar, yang tertua bernama I Gede Domia, tinggal di Mas.

I Gede Pasar Badung pindah dari Gelgel ada di Gianyar, ke Blahbatuh, Negari, Badung, Pandak, Tabanan, Pangkung Tibah, Penebel, Jegu, Tegal Linggah, dan ke Timpag. 

Anak dari I Gede Bandesa Mas, yang tertua I Bandesa Kayu Mas tinggal di Lor Bukit di desa Banjar serta turun temurun. Juga banyak yang tinggal di Buleleng, di Jembrana.
☆☆☆☆☆

Sabtu, 13 April 2019

Madeg Pandito Gajah Mada (Air terjun Madakaripura)

April 13, 2019
Dia di panggil Si Mada oleh orang-orang sekampungnya di Ranah Minang, karena dia bebal dan lamban (Bahasa Minang Mada = Bebal, lamban). 

Ketika dia merantau ke Jawa, Dia dipanggil Gajah Mada, karena badannya yang besar dan kebiasaan orang Jawa waktu itu memakai nama binatang di depan nama orang. 

Singkat cerita dia berhasil menjadi Mahapatih di Jawa. 
Artinya:
Orang minang yang bebal dan lamban pun bisa menjadi Mahapatih di Jawa, apalagi yang pintar 

Cerita diatas hanya seloroh orang-orang padang yang nyari duit di Jawa. Tidak usah diambil hati.

Yang jelas postingan kali ini mengetengahkan apa yang dipercaya orang sebagai tempat Madeg Pandito Gajah Mada, yaitu Madakaripura

Air terjun Madakaripura adalah suatu air terjunyang terletak di Kecamatan Lumbang, Probolinggo. 

Air terjun ini adalah salah satu air terjun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. 

Air terjun Madakaripura berbentuk ceruk yang dikelilingi bukit-bukit yang meneteskan air pada seluruh bidang tebingnya seperti layaknya sedang hujan, 3 di antaranya bahkan mengucur deras membentuk air terjun lagi.

Air terjun ini diberi nama dari Madakaripura, tanah perdikan milik mahapatih Gajah Madadari kerajaan Majapahit.


Nama Madakaripura, konon terkait erat dengan sejarah panjang Kerajaan Majapahit. 

Seperti kita tahu, di masa kejayaannya, Hayam Wuruk dan Gajah Mada berhasil menyatukan bumi Nusantara yang membentang dari Wanin hingga Madagaskar. 

Gajah Mada yang lihai dalam strategi, diplomasi, dan perang, berhasil meruntuhkan kepercayaan raja-raja Nusantara di masa itu, sehingga mereka mau berucap janji setia dalam naungan Surya Majapahit.
Darimana Gajah Mada mendapat kelebihan itu? 
Memang sulit untuk mencari tahu kebenarannya. Tapi di jaman dulu, proses penggemblengan yang harus dijalani seseorang agar memiliki kelebihan khusus mesti melibatkan banyak hal. 

Baik penggemblengan fisik, atau non fisik.
Madakaripura dipilih oleh Gajah Mada sebagai tempat bertapa karena berkeyakinan bahwa ini bukan tempat sembarangan. 

Dan terbukti, Gajah Muda memperoleh kesaktian dan kepercayaan untuk mempersatukan tanah Nusantara.

Gajah Mada menghabiskan sisa usia juga di sini sampai akhirnya muksa menuju Nirwana atau Moksa (kepercayaan hindu budha).
Moksa berarti sebuah kondisi, ketika seseorang pergi meninggalkan dunia bersama raganya. 

Yang bisa melakukan itu hanya orang-orang yang disucikan. 

Beberapa raja tanah Jawa juga memasuki tahap penyempurnaan seperti itu, misalnya Sri Aji Jayabaya. 

Kalau dalam pewayangan, di antara Pandawa Lima, hanya Puntadewa yang bisa masuk surga bersama raganya, 

Tempat Terakhir Nama Madakaripura, lebih tepatnya disebut dengan nama Mada Kari Pura, memiliki arti ‘tempat tinggal terakhir’. 

Pengunaan nama ini diambil dari kepercayaan masyarakat sekitar yang mengatakan, disinilah Gajah Mada melewati masa akhir hidupnya.
Beberapa catatan menyebut, setelah perang Bubat yang sangat legendaris itu.

Sang Maha Patih Gadjah Mada mencoba untuk nyepi di sini. 

Ia merasa gagal mewujudkan sumpahnya menyatukan Nusantara. 

Sehingga menenggelamkan diri dalam kesunyian dan terus berdoa pada Sang Pencipa. 

Sampai akhirnya, ia meninggal dunia dalam kesunyian yang tiada tara.
Disaksikan butiran-butiran abadi air terjun yang memantulkan cahaya matahari dan menciptakan pelangi, tangga warna dari Nirwana. 

Air yang turun deras dan memantulkan bianglala ini kemudian dikenal sebagai air suci ‘Tirta Sewana’. 

Air ini, dipercaya memiliki kelebihan luar biasa sehingga bisa menyembuhan orang sakit dan bisa membuat kita awet muda. 

Di luar mitos ini, Madakaripura dikenal sebagai tempat wisata alam terbuka yang menonjolkan daya tarik air terjun dengan ketinggian sekitar 200 meter. 

Air terjun ini berkumpul di relung sempit dengan diameter 25 meter.
Kawasan wisata ini berada sekitar 620 meter diatas permukaan air laut, dan terletak di kawasan Tengger, tak jauh dari Bromo. 

Tak heran jika beberapa travel agent yang menyiapkan Bromo sebagai daerah tujuan, biasanya juga menyisipkan Madakaripura sebagai tempat tujuan wisata.

Sumber di Madakaripura menyebut, sebenarnya ada lima air terjun di kawasan ini. 

Dengan gamblang kita bisa melihat tiga air terjun yang ada. 

Sementara dua lainnya, mesti dicari karena tersembunyi di balik air terjun yang lain.
Sementara di tengah tebing, di balik air terjun yang paling besar, terdapat rongga menganga yang melintang secara horisontal. 

Penduduk setempat percaya, di lubang inilah Sang Patih Gadjah Mada biasa duduk diam, bersemedi dalam keheningan rasa.

Kerajaan Majapahit Dalam dalam Kitab Pararaton dan Negara Kertagama

April 13, 2019
Disini diceritakan apa yang terjadi pada jaman kerajaan Majapahit seperti yang tertulis dalam kitab Pararaton dan Negara Kertagama.

RADEN WIJAYA
Raden Wijaya adalah menantu Raja Kertanegara Singosari yang kemudian digulingkan oleh pemberontakan Jayakatwang. 

Raden Wijaya pun lari saat pemberontakan berlangsung, dan ketika Jayakatwang telah menjadi raja, diapun memohon ampunan pada Raja Jayakatwang. 

Raja Jayakatwang mengampuninya dan memberinya daerah hutan tarik.

Namun kemudian, pasukan mongol yang ingin menyerbu dan membunuh Kertanegara datang (karena sebelumnya kertanegara pernah memotong telinga utusan mongol). 

Raden Wijayapun melihat ini sebagai kesempatan. 

Segera dia memberitahu pasukan mongol bahwa Kertanegara itu adalah jayakatwang, dan diapun ikut menyerbu Jayakatwang bersama pasukan Mongol. 

Ketika Pasukan mongol berpesta karena kemenangannya, Raden Wijayapun menyerang pasukan mongol yang lengah, hingga lari terbirit-birit kembali ke negaranya. 

Jayakatwang sudah dibunuh mongol dan mongol pun sudah lari, maka Raden Wijaya menobatkan dirinya sebagai Raja Majapahit dengan gelar 
Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.

MAHAPATI
Dalam memerintah Majapahit, Raden Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. 

Nambi diangkat sebagai patih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, Arya Wiraraja dan Ranggalawe sebagai pasangguhan. 

Pada tahun 1295 Mahapati menghasut Ranggalawe supaya menentang pengangkatan Nambi sebagai patih. 

Sebaliknya, ia juga menghasut Nambi supaya menghukum kelancangan Ranggalawe. 

Akibat adu domba tersebut, perang saudara pertama pun meletus. 

Ranggalawe akhirnya tewas di tangan Kebo Anabrang dalam sebuah pertempuran di Sungai Tambak Beras. 

Namun, Lembu Sora yang adalah paman Ranggalawe, merasa tidak tahan dan berbalik membunuh Anabrang.

Pada tahun 1300 Mahapati menghasut Mahisa Taruna putra Kebo Anabrang supaya menuntut pengadilan untuk Lembu Sora. 

Mengingat jasa-jasanya selama perjuangan mendirikan kerajaan, Lembu Sora hanya dihukum buang oleh Raden Wijaya, raja Majapahit saat itu. 

Mahapati ganti menghasut Sora supaya meminta hukuman yang lebih pantas. 

Sora pun berangkat ke ibu kota untuk meminta hukuman mati. 

Di sana ia tewas dikeroyok tentara istana, karena Nambi sudah lebih dahulu dihasut Mahapati, bahwa Sora akan datang untuk membuat onar.

Pada tahun 1316 Mahapati mengadu domba Nambi dengan Jayanagara, raja kedua Majapahit pengganti Raden Wijaya. 

Suatu ketika Nambi mengambil cuti karena ayahnya di Lamajang meninggal dunia. 

Mahapati datang melayat sambil menyarankan supaya ia memperpanjang cuti. 

Mahapati bersedia menyampaikan permohonan izin kepada raja. 

Akan tetapi, di hadapan Jayanagara, Mahapati justru mengabarkan bahwa Nambi tidak mau kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan. 

Jayanagara marah dan mengirim pasukan untuk menghancurkan Lamajang. 

Nambi sekeluarga pun tewas. 

Mahapati kemudian diangkat sebagai patih baru sesuai dengan cita-citanya.

Kelicikan Mahapati inilah sebagai penyebab kematian para pahlawan pendiri Majapahit, seperti Ranggalawe, Lembu Sora, dan Nambi.

GAJAH MADA 
Asal-Usul Gajah Mada ini tidak/ belum diketahui sampai saat ini. 

Tiba-tiba catatan sejarah menyebutnya sebagai patih Daha dan Kahuripan.

Saat itu Majapahit diperintah oleh Raja Jayanagara, seorang Raja berdarah campuran Jawa-melayu/ minang. 

Banyak pemberontakan terjadi jaman Raja ini, karena raja memang tidak adil dan atau karena dia berdarah campuran.

Pemberontakan terbesar hingga jatuhnya ibukota majapahit adalah pemberontakan Ra Kuti. 

Untunglah raja jayanagara berhasil diselamatkan oleh pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. 

Dan kemudian Gajah Mada berhasil merebut kembali ibukota dan keraton. 

Diapun menjadi kesayangan dan kepercayaan Jayanagara.

Saat inilah Gajahmada mengetahui kebusukan-kebusukan di dalam keraton majapahit. 

Salah satunya kebusukan Mahapati, yang kemudian dia bongkar dan mengakibatkan Mahapati dihukum dengan cara cineleng-celeng, artinya "dicincang seperti babi hutan".

Gajahmada pun sadar, bahwa Raja Jayanagara bukanlah Raja yang layak dia bela karena kelalimannya dan kesukaannya main perempuan. 

Ditambah lagi Jayanegara sangatlah paranoid. 

Dia ketakutan semua orang akan merebut tahtanya.

Saat raja Jayanagara menderita sakit bisul, Gajahmada melihat ini sebagai kesempatan. 

Dia menyuruh tabib istana yang istrinya sering diganggu oleh raja, untuk membunuh raja saat sedang mengobati sang raja di kamarnya. 

Begitu sang tabib menusuk sang raja hingga mati, Gajahmada pun masuk ke kamar raja dan langsung membunuh sang tabib. 

Jadi tidak ada saksi hidup mengenai peristiwa tersebut kecuali Gajahmada sendiri, yang mengaku dia geram kpd sang tabib yang membunuh raja sehingga dia langsung membunuhnya juga tanpa sempat diadili terlebih dahulu.

Gajahmada menjadi Mahapatih saat pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi adik dari Jayanagara karena jayanagara tak punya keturunan. 

Dan terkenal akan sumpah Palapanya di masa Hayam Wuruk. 

Sumpah inilah yang akan menjadi blunder nya di kemudian hari!

Ada dua wilayah di Jawa yang terbebas dari invasi Majapahit yakni Pulau Madura dan Kerajaan Sunda karena kedua wilayah ini mempunyai keterkaitan erat dengan Raden Wijaya, pendiri majapahit.

Untuk menyatukan sunda dengan Majapahit, Raja hayam Wuruk melakukan langkah-langkah diplomasi dengan hendak menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi putri Sunda sebagai permaisuri. 

Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. 

Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. 

Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. 

Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayah dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. 

Akibat peristiwa itu langkah-langkah diplomasi Hayam Wuruk gagal dan Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan.

Gajahmada menghabiskan hari-hari terakhirnya di dukuh Madakaripura yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, hadiah sang Raja. Disitulah beliau wafat 1364 M.

Sikilas Babat Dalem Majapahit

Babad Dalem Majapahit- Diceritakan Ida Pandita Hindu yang bergelar Usman Aji dan Ajisaka diutus oleh Ratu Hindu yang bernama Raja Ista...